Kenali produk di Custom POS
Foto, barcode, nama, atau SKU menghasilkan kandidat produk. Kasir mengonfirmasi sebelum produk masuk ke transaksi dan persediaan.
Navv Commerce Intelligence mengubah foto, barcode, teks, suara, dan kode lokal menjadi identitas produk atau menu yang dapat dipakai POS, restoran, kendaraan, dan sistem enterprise.
Tim tidak membangun tiga mesin terpisah. Custom POS dan voice ordering menjadi kanal pengumpulan serta pembuktian data. API enterprise menggunakan mesin resolusi yang sama untuk pekerjaan berskala besar.
Foto, barcode, nama, atau SKU menghasilkan kandidat produk. Kasir mengonfirmasi sebelum produk masuk ke transaksi dan persediaan.
Suara diubah menjadi pesanan terstruktur berdasarkan menu aktif restoran yang sudah dipilih pengguna.
Perusahaan memakai Navv untuk mencocokkan katalog, menyebarkan data produk, lalu mengukur distribusi pada channel yang berpartisipasi.
Keduanya realistis bila memakai akun, katalog tenant, penyimpanan bukti, dan proses koreksi yang sama. Yang berbeda hanya input dan hasil operasionalnya.
Pekerjaan yang diselesaikan: mendaftarkan produk yang belum tersedia tanpa mengetik ulang semua atribut.
Barcode tetap menjadi pilihan utama ketika tersedia. Foto membantu produk tanpa barcode terbaca atau data yang belum ada.
Pekerjaan yang diselesaikan: mengubah bahasa percakapan menjadi menu ID, jumlah, dan pilihan seperti “tanpa pedas” atau “es sedikit”.
Navv tidak menebak harga atau ketersediaan. Data tersebut tetap berasal dari restoran atau POS.
Angka pasar memberi konteks, bukan bukti penjualan. Navv memakai toko dan restoran yang sudah dapat dijangkau sebagai tempat belajar, kemudian menjual API melalui perusahaan yang dapat membawa banyak channel.
| Sinyal dari riset v6 | Angka indikatif | Makna untuk Navv |
|---|---|---|
| SAM layanan data | Rp42-307 miliar ARR; skenario dasar Rp140 miliar. | Ruang kontrak software/data, bukan nilai transaksi retail dan bukan ramalan pendapatan Navv. |
| Target tiga tahun | Rp1,1-4,5 miliar ARR; dasar Rp2,4 miliar. | Target kapasitas dari asumsi jumlah pelanggan dan harga yang belum divalidasi. |
| Produsen pangan | 8.593 produsen menengah/besar dan 2,07 juta IKM pangan. | Produsen lebih besar lebih mungkin memiliki banyak SKU, channel, dan anggaran. |
| Outlet retail | Hampir 4 juta toko tradisional dan sekitar 49.987 gerai modern. | Distribusi luas, tetapi penjualan satu per satu ke warung akan mahal. |
| Adopsi digital | 9,24% memakai POS digital dalam survei BI yang dirujuk v6. | Penyedia POS adalah jalur distribusi potensial; angka ini bukan kondisi pasti semua toko saat ini. |
Custom POS bukan tujuan akhir. Ia adalah produk yang dipakai pelanggan sekaligus laboratorium nyata untuk membuktikan image recognition, voice resolution, dan kualitas katalog.
Fallback wajib: bila hasil tidak yakin, tampilkan kandidat, minta barcode, atau izinkan input manual. Penjualan dan pemesanan tidak boleh berhenti hanya karena Navv belum tahu.
Speech-to-text, OCR, dan image model dapat dibeli dari penyedia lain. Nilai Navv berada pada pemetaan hasilnya ke produk atau menu yang benar, lengkap dengan bukti dan tingkat keyakinan.
GTIN, merek, varian, ukuran, unit dagang, foto, dan alias merchant.
Menu tenant, varian, modifier, nama percakapan, periode aktif, dan ketersediaan.
Mesinnya sama, tetapi produk kemasan dan menu restoran tetap memiliki model data terpisah.
Untuk CPG, GTIN mengaitkan product record lintas channel. Navv menambahkan nama lokal, unit, bukti, confidence, dan riwayat koreksi. GTIN atau data GS1 tetap harus digunakan sesuai izin sumbernya.
| Lapisan | Isi | Pemilik kebenaran |
|---|---|---|
| GS1 | GTIN, pemilik identifier, atribut dasar dan standar pertukaran data. | Brand owner dan GS1. |
| Manufacturer | Spesifikasi, kemasan, sertifikasi, status produk dan materi resmi. | Manufacturer/PIM. |
| POS/retailer | Merchant SKU, nama lokal, harga, listing, transaksi dan persediaan. | Retailer atau tenant. |
| Navv | Pemetaan antar-ID, alias, konflik unit, confidence, sumber dan riwayat koreksi. | Navv untuk hasil resolusi; sumber asli tetap dicatat. |
| Taxonomy | Kategori BPOM untuk konteks Indonesia, dengan mapping terpisah ke GS1 GPC dan taxonomy feed yang dibutuhkan. | Pemilik taxonomy; Navv menyimpan mapping serta versinya. |
Data CPG membangun identitas produk lintas toko. Data food menggabungkan katalog aktual milik tiap restoran dengan ontology hidangan dan bahasa Indonesia. Keduanya memakai sumber, versi, confidence, dan feedback yang bisa ditelusuri.
Halaman terkait: dua dokumen riset CPG/menu · rancangan context graph untuk Navv →
Mulai dari makanan kemasan dengan identifier stabil. Kombinasi utama adalah brand + GTIN; SKU toko tetap menjadi alias lokal, bukan identitas universal.
Katalog merchant menjawab menu yang benar-benar dijual di outlet dan saat ini. Ontology membantu mengenali nama hidangan, alias, dialek, dan modifier lintas merchant.
| Fokus CPG | Kategori pangan | Urutan kerja |
|---|---|---|
| P1 | 15.0 snack; 06.0 serealia/mi; 14.0 minuman non-susu. | Mulai di kategori yang dekat dengan transaksi retail dan pesanan restoran. |
| P2 | 07.0 bakeri; 05.0 cokelat/permen; 01.0 susu. | Tambah setelah coverage atribut, sumber, dan proses review P1 terbukti. |
Urutan kandidat: GTIN valid → brand + nama ternormalisasi → kemiripan gambar/label → antrean review manusia untuk konflik atau confidence rendah.
Prioritaskan principal untuk spesifikasi, BPOM/BPJPH untuk status resmi, GS1 untuk identifier melalui jalur yang diizinkan, lalu open dataset sebagai kandidat yang perlu diverifikasi.
Menu “Teh Botol” dapat menunjuk CPG product record yang tepat. Menu merchant tetap memiliki harga, modifier, ketersediaan, dan nama tampilnya sendiri.
| Target dokumen riset | Angka rencana | Cara membaca |
|---|---|---|
| CPG makanan kemasan, 12 minggu | 700–900 golden records; >90% atribut wajib; minimal 2 sumber cross-validation per SKU. | Target kerja yang bergantung akses sumber dan kapasitas review, bukan data Navv yang sudah terkumpul. |
| Menu publik chain, fase seed | 1.500–2.500 item; 150–250 canonical dishes; sekitar 40 modifier groups. | Target parsing/ontology. Bukan pengganti onboarding katalog merchant. |
| Food voice, validasi merchant | Mulai 1 design partner, lanjut 3–5 merchant sejenis; visi perluasan hingga 20 outlet. | Utamakan menu aktif, modifier, harga yang mutakhir, dan audio terkoreksi sebelum mengejar jumlah outlet. |
Penyesuaian untuk tim kecil: rencana CPG 10 principal/6 kategori dan seed chain nasional adalah arah ekspansi. Mulai dari data retail dan restoran yang sudah dapat diakses, satu kategori CPG P1, satu merchant restoran, lalu tambah sumber hanya ketika proses verifikasi mampu mengikutinya.
Aplikasi boleh berbeda, tetapi identitas, review, bukti, dan aturan data hidup pada layanan yang sama. Pilihan teknologi dapat berubah; batas data dan kontrak API tidak boleh ikut berubah tanpa alasan.
Gunakan model dasar yang dapat diganti untuk gambar, OCR, speech-to-text, dan kemiripan. Gabungkan hasilnya dengan pencarian katalog, aturan atribut, confidence, dan review manusia.
Fine-tune hanya jika kesalahan berulang sudah jelas, tersedia ribuan contoh berizin dan set uji terpisah, serta hasilnya lebih baik atau lebih murah dari perbaikan data/aturan.
Mirrorless camera: gunakan untuk kasus katalog yang sulit atau layanan fotografi tambahan. Ponsel tetap cukup untuk alur harian bila barcode dan tulisan kemasan terbaca.
Konteks lokasi penting untuk merchant onboarding, cabang yang benar, restaurant-first ordering, wilayah penjualan, dan channel measurement. Data produk dan stok tetap berasal dari pihak yang berwenang.
Hubungkan ID cabang Navv dengan Place ID agar toko atau restoran bernama mirip tidak tercampur. Owner tetap mengonfirmasi.
Lokasi mempersempit tenant yang dapat dipilih. Menu aktif, harga, pickup, dan ketersediaan berasal dari restoran.
Setiap listing dan pengamatan membawa cabang serta tanggal. Nearby Search bukan data penjualan, pengunjung, atau pangsa pasar.
Setiap tahap baru dimulai setelah tahap sebelumnya menghasilkan penggunaan berulang dan hak data yang jelas.
Mencocokkan katalog perusahaan dengan data POS/retailer dan menunjukkan produk hilang, duplikat, salah unit, atau sudah tidak aktif.
FMCG memasukkan data produk sekali. Navv menyesuaikan dan mengirim draft data ke berbagai POS atau retailer sesuai format masing-masing.
Mengolah data channel yang berpartisipasi untuk menunjukkan distribusi listing, harga, dan performa produk secara agregat.
/resolve/product - mencari identitas produk./resolve/menu - memetakan suara/teks ke menu tenant./catalogs/compare - mencari perbedaan dua katalog./feedback - menerima keputusan dan koreksi pengguna.Navv menghubungkan product release dari FMCG ke retailer yang relevan tanpa mengambil alih harga, stok, kredit, atau fulfillment.
Batas awal: belum ada auto-order, EDI penuh, payment, atau perubahan diam-diam ke product master. Mulai dari draft, persetujuan manusia, dan jejak pembatalan.
Wedge pertama tetap catalog reconciliation. Kasus lain menambah nilai setelah identitas produk dan unit kemasan stabil.
Samakan nama dan kode berbeda untuk barang yang sama, sambil menyimpan alias lama.
Hubungkan kode pembelian, gudang, cabang, dan POS ke satu identitas acuan.
Temukan listing ganda, barcode tidak cocok, dan merek tidak konsisten sebelum terbit.
Simpan versi, sumber, tanggal, dan persetujuan untuk perubahan atribut penting.
Hubungkan unit dan konversi tanpa mencampur barang jual yang berbeda.
Kelompokkan produk dengan bukti dan pertahankan kode lama sebagai alias.
Hubungkan katalog ke nomor serta status BPOM/BPJPH beserta sumber dan tanggal.
Petakan pemberitahuan ke SKU, unit, cabang, dan transaksi; bukan sistem recall lengkap.
Cocokkan nama, kode, unit, dan varian; keputusan membayar tetap di perusahaan.
Kualitas, keamanan, dan proses pembatalan dibuktikan bertahap sebelum ruang lingkup diperbesar.
Perjanjian data, daftar vendor/subprocessor, retensi dan penghapusan, tenant isolation, security review, incident plan, serta kontak darurat.
SLA 24/7, migrasi otomatis penuh, dan rekomendasi pembelian sebelum kualitas, hak data, stok, serta waktu pembaruan terbukti.
Roadmap ini mengikuti kapasitas tim kecil. Custom POS retail dan restaurant voice dibuat bersama karena keduanya memakai foundation yang sama; fitur enterprise bertambah satu tahap pada satu waktu.
Urutan kerja enterprise: sponsor dan izin → pilot berbayar → berjalan berdampingan tanpa menulis master → produksi terbatas → perluasan bertahap.
Asumsi kapasitas v6: satu owner, dua pengembang, satu analis data, dan satu pendamping lapangan. Jika pengembang hanya satu, jadwal dua produk harus diperlambat.
| Peran | Tanggung jawab utama | Ukuran kerja |
|---|---|---|
| Owner | Pilot, harga, perjanjian, prioritas, kas, dan penjualan. | Toko aktif, calon mitra, kontrak, dan runway. |
| Developer retail/backend | Transaksi, inventory, tenant isolation, security, backup, dan API dasar. | Gangguan, kehilangan data, kecepatan, dan stabilitas. |
| Developer voice/intelligence | Foto produk, voice-to-menu, confidence, confirmation, dan integration API. | Waktu input ke hasil benar serta jumlah koreksi. |
| Data analyst | Correct set, sumber, error review, measurement, dan antrean kasus ragu. | Presisi, coverage, dan waktu review. |
| Field/customer support | Pelatihan, observasi penggunaan, respons masalah, dan feedback. | Waktu respons, masalah selesai, dan penggunaan harian. |
Senin menetapkan satu prioritas bisnis dan satu prioritas kualitas. Harian memeriksa hambatan dan antrean. Jumat meninjau error, penggunaan, biaya, serta penjualan.
1.200 kasus × 3 menit = 60 jam per bulan. Jika antrean melewati 2 hari kerja selama 2 minggu, perbaiki data/aturan, batasi scope, atau jual kapasitas tambahan.
Harga dan angka keuangan berikut dipindahkan dari v6 sebagai asumsi kerja, bukan harga pasar atau proyeksi yang sudah tervalidasi. Model dua produk harus dihitung ulang setelah usage nyata tersedia.
Dua lokasi, alur retail dan restoran, transaksi nyata, izin data, serta masukan operator.
Waktu lebih cepat, error dan koreksi tercatat, biaya review terlihat, serta video demo nyata.
Tawarkan pilot sempit ke FMCG, distributor, penyedia POS, atau jaringan restoran.
| Paket | Harga uji v6 | Lingkup awal |
|---|---|---|
| Custom POS pilot | Gratis atau diskon terbatas | Dua lokasi, 90 hari, transaksi sederhana, pendampingan, dan aturan data tertulis. |
| API pilot / 4 minggu | Rp8–15 juta sekali | Satu mitra, satu kategori, batas record, dua perbaikan, dan laporan hasil. |
| API basic | Rp3 juta/bulan | Kuota kecil untuk nama, barcode, foto atau menu; laporan dan dukungan jam kerja. |
| API growth | Rp8 juta/bulan | Kuota lebih besar, unggah katalog, release event, dan laporan; integrasi khusus terpisah. |
| Enterprise | Mulai Rp25 juta/bulan | Berdasarkan usage, keamanan, sistem terhubung, support, dan hasil paid pilot. |
| Restaurant voice | Belum ditetapkan | Validasi biaya per order, correction rate, dan nilai ke restoran sebelum memilih subscription atau usage. |
Owner 10; dua developer 30; analyst 10; support 6; benefit/cadangan tenaga 8; cloud dasar/tools 4; sales/admin/operasional 7. Biaya model dan usage dihitung terpisah.
Pendapatan asumsi Rp236 juta; fixed cost Rp900 juta; usage Rp54 juta; pilot Rp6 juta; initial cost Rp30 juta. Kebutuhan bersih ±Rp754 juta; plus cadangan 20%. Tanpa pendapatan: ±Rp1,116 miliar.
Contoh break-even v6: rata-rata Rp6 juta/pelanggan dengan contribution margin 75% menghasilkan Rp4,5 juta untuk fixed cost; dibutuhkan sekitar 17 pelanggan. Jika contribution margin 60%, sekitar 21 pelanggan.
Angka berikut adalah target uji. Ia bukan kemampuan Navv yang sudah terbukti.
Waktu produk baru, persentase saran benar, frekuensi fallback manual, penggunaan mingguan, dan kesalahan persediaan.
Waktu sampai cart benar, koreksi item/modifier, kegagalan karena kebisingan, repeat order, dan order yang dibatalkan.
Record berhasil dicocokkan, review manual, konflik nyata yang ditemukan, waktu katalog siap, API reuse, dan pembelian ulang.
Pelanggan berbayar, margin setelah biaya model/reviewer/support, waktu integrasi, renewal, dan ketergantungan pada founder.
Bukti publik mendukung kebutuhan identitas, sinkronisasi, dan measurement. Ia belum membuktikan perusahaan Indonesia akan memilih atau membayar Navv.
| Bukti | Makna untuk Navv | Batas interpretasi |
|---|---|---|
| METRO menemukan hanya 91% dari 632 SKU P&G pada data pembanding Verified by GS1. | Rekonsiliasi daftar brand-retailer dan lifecycle lag adalah pekerjaan nyata. | Kasus GS1 di luar Indonesia, bukan hasil Navv. |
| Carrefour masih menggabungkan GDSN dan input Excel untuk bagian katalognya. | Standar tidak otomatis menghapus data lama dan proses manual. | Studi kasus promosi ekosistem GS1. |
| Syndigo dan Akeneo menawarkan PIM, mapping, API, dan syndication. | Kategori enterprise sudah memiliki anggaran dan produk matang. | Navv tidak boleh menjadi PIM generik yang lebih kecil. |
| NIQ menawarkan pengukuran FMCG berbasis ePOS di Indonesia. | Data POS memiliki nilai komersial bagi FMCG. | Navv belum memiliki coverage atau metodologi setara NIQ. |
| Apple mendukung quick food ordering dan voice-based apps di CarPlay. | Jalur in-car secara platform memungkinkan untuk diuji. | Tetap memerlukan entitlement, partner restoran, dan pengalaman yang aman. |
Kesalahan identitas, hak data yang kabur, atau klaim coverage berlebihan lebih berbahaya daripada model yang memilih untuk tidak menjawab.
Ukuran, rasa, pcs, pack, dan case tidak boleh digabung hanya karena nama atau gambar mirip.
Data tenant tidak otomatis boleh dipakai lintas pelanggan. Tujuan, retensi, agregasi, dan penghapusan harus tertulis.
Gunakan istilah “channel yang berpartisipasi”; jangan mengklaim gambaran pasar Indonesia sebelum metodologinya layak.
Tunda akuntansi, payroll, promosi kompleks, payment gateway, dan fitur POS umum yang tidak menguatkan intelligence layer.
Jika semua kasus dipindahkan menjadi kerja manual Navv, API tidak akan memiliki margin yang sehat.
Batasi langkah, bacakan ringkasan, dan minta konfirmasi eksplisit sebelum mengirim order atau pembayaran.
Tujuan 90 hari bukan menyelesaikan seluruh visi. Tujuannya memastikan dua produk awal digunakan, foundation-nya sama, dan satu percakapan enterprise berubah menjadi pilot dengan data nyata.
Tenant, catalog import, product/menu entity, bukti sumber, confidence, review, koreksi, audit, dan pemisahan data.
Custom POS mengenali produk retail; restaurant POS mengubah suara menjadi cart yang dikonfirmasi.
Pilih minuman kemasan, minta product master, bandingkan dengan data POS berizin, dan tawarkan hasil reconciliation berbayar.
Diperiksa 11 September 2026. Halaman vendor membuktikan ketersediaan fitur, bukan efektivitas independen atau kemauan pelanggan membayar Navv.